Setahun Lebih Menggantung, Polres Jember Diminta Hentikan Status Ketidakpastian Status Hukum Sdr Marso

- Penulis

Rabu, 10 Desember 2025 - 10:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buserpantura.id | Jember, Rabu 10 Desember 2025 — Penanganan perkara oleh Unit PPA Polres Jember kembali mendapat sorotan setelah klien bernama Sdr. Marso belum memperoleh kepastian status hukumnya sejak menjalani pemeriksaan sebagai saksi terlapor pada Agustus 2024. Kuasa hukum menilai penanganan perkara ini telah memasuki kondisi vacuum of legal certainty yang berpotensi merugikan hak-hak hukum klien.

Perkara berawal dari surat panggilan interogasi tertanggal 8 Agustus 2024 melalui Surat Nomor B/1130/VIII/Res.1.24/2024/Reskrim. Sdr. Marso telah hadir sebagai warga negara yang kooperatif. Namun, hingga lebih dari satu tahun berlalu, tidak ada penetapan status hukum apa pun, baik sebagai saksi tetap, saksi terlapor, maupun peningkatan status lainnya.

Kuasa hukum, Adv. Donny Andretty, S.H., dan Gita Kusuma Mega Putra, C.PFW, menyatakan bahwa sepanjang tahun 2024, pihaknya telah berkali-kali meminta informasi perkembangan perkara, namun hampir tidak ada respons dari penyidik Unit PPA. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan kewajiban penyidik sebagaimana diatur dalam Perkap No. 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan yang mewajibkan penyampaian SP2HP secara berkala.

Pada 8 Desember 2025, Sdr. Marso dan kuasa hukum mendatangi langsung penyidik Unit PPA Polres Jember. Namun klarifikasi yang diberikan penyidik justru menimbulkan tanda tanya besar. (10/12/2025)

Penyidik menyampaikan tiga alasan keterlambatan, yaitu:

  • Adanya mutasi Kanit dan Kasat di lingkungan Polres Jember;
  • Tingginya jumlah laporan masyarakat sehingga menyebabkan tumpukan perkara;
  • Proses masih berlangsung karena saksi belum ditemukan.

Kuasa hukum menilai alasan tersebut menunjukkan lemahnya manajemen penyidikan. Mutasi pejabat struktural tidak seharusnya menghentikan kesinambungan penanganan perkara. Selain itu, beban laporan tinggi bukan alasan untuk menunda hak seseorang atas kepastian hukum.

“Saat perkara menyangkut warga biasa, proses bisa berjalan berlarut-larut tanpa kejelasan. Padahal asas kepastian hukum merupakan prinsip fundamental penyelenggaraan negara,” ujar Poetra Sebagai kuasa Hukum.

Baca Juga:  Menhan RI Terima Kunjungan Kehormatan Menhan Afrika Selatan, Bahas Penguatan Kemitraan Strategis

Permohonan Kepastian Status Hukum Disampaikan
Pada 8 Desember 2025, kuasa hukum resmi menyerahkan permohonan tertulis agar Polres Jember segera menetapkan status hukum klien. Bukti tersebut tercatat dalam Tanda Terima Surat Polres Jember:

Nomor: B/626/XII/2025
Perihal: Memohon agar menetapkan status terlapor klien

Dokumen ini menunjukkan bahwa upaya hukum telah dilakukan secara formal dan prosedural.

Putra menegaskan bahwa ketidakjelasan status hukum klien bertentangan dengan:

  • Asas Kepastian Hukum — Pasal 3 UU No. 28/1999
  • Asas Profesionalitas dan Proporsionalitas dalam Penanganan Perkara Pidana
  • Perkap No. 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan
  • Perkap No. 14 Tahun 2011 tentang Manajemen Penyidikan

Dalam konteks hukum acara pidana, penundaan tanpa kejelasan yang signifikan berpotensi melanggar hak konstitusional warga negara.

Melalui rilis ini, Sdr. Marso meminta Polres Jember memberikan kepastian hukum secara resmi, apakah statusnya masih sebagai saksi atau telah berubah. Kepastian tersebut diperlukan untuk menghindari kerugian psikologis, sosial, maupun hukum akibat proses yang tidak kunjung jelas.

“Kami hanya menuntut kepastian hukum. Klien kami patuh dan kooperatif sejak awal, tetapi institusi negara wajib menjalankan prosedurnya dengan profesional,” tegas Putra sebagai kuasa hukum.

 

Arden73

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel buserpantura.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua Umum GNTP: Korupsi Berawal dari Politik Berbiaya Tinggi, Negara Harus Memutus Mata Rantai “Bisnis Kekuasaan”
POLDA BANTEN Kenapa Terkesan Takut Diwawancara Wartawan Terkait Kasus UUN/FamFukTjhong, Ketum FERADI WPI Prihatin
GNTP Tegaskan Dukungan terhadap Penegakan Hukum yang Tegas, Profesional, dan Berkeadilan dalam Pemberantasan Korupsi
Personel Polsek Jombang Monitoring Perkembangan Tanaman Jagung di Desa Plosogeneng
Pimpinan Umum Media CyberTNI.id Ahmad Wibisono, S.H., C.PFW., C.MDF., C.JKJ., C.FTAX Tempuh Jalur Hukum Atas Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Penyerangan Kehormatan
Ketua Umum GNTP Apresiasi Surat Terbuka Mahfud MD kepada Presiden Prabowo, Dorong Penegakan Hukum Sesuai Kewenangan dan Prosedur
Ketum FERADI WPI Bagikan Kesaksian Rohani, Mengaku Mendapat Rhema dari Mazmur 91:7
FERADI WPI dan Korban Hormati Klarifikasi Ketua DPRD Lebak, Serahkan Pembuktian kepada Penyidik Polda Banten
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 04:49 WIB

Ketua Umum GNTP: Korupsi Berawal dari Politik Berbiaya Tinggi, Negara Harus Memutus Mata Rantai “Bisnis Kekuasaan”

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:06 WIB

POLDA BANTEN Kenapa Terkesan Takut Diwawancara Wartawan Terkait Kasus UUN/FamFukTjhong, Ketum FERADI WPI Prihatin

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:24 WIB

GNTP Tegaskan Dukungan terhadap Penegakan Hukum yang Tegas, Profesional, dan Berkeadilan dalam Pemberantasan Korupsi

Jumat, 24 Juli 2026 - 04:45 WIB

Personel Polsek Jombang Monitoring Perkembangan Tanaman Jagung di Desa Plosogeneng

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:24 WIB

Pimpinan Umum Media CyberTNI.id Ahmad Wibisono, S.H., C.PFW., C.MDF., C.JKJ., C.FTAX Tempuh Jalur Hukum Atas Dugaan Pencemaran Nama Baik dan Penyerangan Kehormatan

Berita Terbaru